Senin, 18 Mei 2015

Araselo

Oleh: Nanda Feriana

11206006_496143837203339_6299374052440384403_n 

Entah bagaimana caranya melukiskan desa yang satu ini. Memang benar, dari namanya terdengar cukup asing, dan tampaknya seperti bukan nama desa yang berada di Aceh. Sebagai orang Aceh pun, nama itu baru pertama kali saya dengar, itupun dari seseorang yang bukan orang Aceh. Bang Ananta Rangga Permana Stokhorst namanya, Pengajar Muda Angkatan 9.

Araselo… bahkan masyarakat Sawang sendiri pun ada yang tidak tahu dimana keberadaan desa ini. Namun entah bagaimana caranya Program Indonesia Mengajar bisa menemukan desa ini dan memutuskan menempatkan salah seorang Pengajar Muda disana. Sejak memutuskan untuk menargetkan sekolah dasar di Araselo sebagai sasaran kunjungan Jaroe Aceh Youth Community (JAYC), sejak itu pula rasa penasaran dan keinginan berpetualang terus membuncah. Pada hari Jumat, 8 Mei 2015, niat berkunjung yang sempat dua kali tertunda itu pun akhirnya terealisasikan. Maka datanglah kami ke Araselo, untuk mengunjungi dan berbagi dengan anak-anak disana. Awalnya ada 10 orang yang mau terlibat, (7 anggota, dan 3 partisipan) namun entah bagaimana caranya, di hari keberangkatan semua relawan menjadi 14 orang. Antusiasme yang tak terduga.

Dan… Araselo, ketika jarum jam menunjuk pukul 4 sore, di tengah langit yang gelap dan gerimis tipis, kami bergerak untuk menapakinya. Terlihatlah lekuk-lekuk bukit yang menjulang tinggi, yang bentuknya tersamarkan kabut. Hawa dingin menggelayuti. Pohon-pohon besar dan semak belukar mengelilingi. Sulit untuk percaya itu disebut jalan menuju ke sebuah desa, karena lebih mirip jalan menuju ke hutan belantara. Namun 7 Sepeda motor yang membawa 14 anak-anak manusia itu terus melaju. Meski hujan semakin mengirimkan kedinginan, namun tak terlihat ada wajah ketakutan dari teman-teman. Awan yang semakin gelap, tak sedikitpun menghambat jalannya langkah untuk terus bergerak. Ya, semakin gelap, jalanan semakin tak bersahabat. Permukaan jalan semakin garang, berbatu-batu (tak sekadar kerikil) , licin (khas tanah pergunungan yang terkena hujan), dan ruas jalan semakin sempit, semakin menanjak. Araselo, pelosok Aceh Utara itu nyaris tembus ke Aceh Tengah.Pukul 19.00 kami menghela nafas lega, kami tiba dengan bahagia.

Pernahkah terbayangkan? Di tengah hutan sedemikian belantara, ternyata terdapat sebuah sekolah dasar bernama SDN 25 Sawang? Dan SDN 25 Sawang, ternyata tak se dekat yang kami duga. Dengan megendarai motor, butuh waktu sekitar 20 menit untuk tiba ke lokasi. Dan karena bangunan sekolah berada di atas bukit, butuh waktu 20 menit lagi untuk berjalan kaki (beresiko jika mengendarai sepmor) ke atas bukit yang terjal dan berbatu. Dan.. begitulah Araselo. Di SD itulah salah satu PM Indonesia Mengajar mengabdi setahun lamanya disana.

Benar, bahwa perjalanan ini membawa pelajaran hidup sangat berharga. Perjalanan yang mengajarkan banyak hal. Butuh keihklasan ekstra, kerendahan hati, kepedulian untuk bisa mengabdi setulus hati, menjadi anak-anak muda hebat dan kuat. Tinggalkan hiruk pikuk kota Jakarta dan mengabdi ke desa, setahun jauh dari keluarga, demi setahun mengabdi,demi seumur hidup menginspirasi. Terimakasih banyak bang Rangga, atas inspirasinya. Tetap kompak para JAYCiers, thanks atas tangan kalian, tangan yang tangguh dan hebat. Terimakasih para bintang dari Araselo, dari SDN 25 Sawang, kalian generasi kuat.

Anak muda, mari buka mata. Jangan sibuk berteriak, mari lebih banyak bergerak!

11141760_496101973874192_815845778790675108_n _MG_1092 11041748_496101233874266_1489808761367421912_n

Volunteer dan Panitia Seleksi Bina Antar Budaya Chapter Banda Aceh

IMG_4427  IMG_4404

Pada hari Minggu, 3 Mei 2015, Jaroe Aceh Youth Community (JAYC) dipercaya menjadi panitia sekaligus volunteer dalam kegiatan tes tertulis dalam rangka Seleksi calon peserta untuk program Pertukaran Budaya bagi Pelajar antar Negara yang diadakan oleh Bina Antar Budaya Chapter Banda Aceh. Dalam kegiatan ini, Para JAYCiers diminta untuk membantu jalannya proses ujian yang berlangsung di SMA Sukma Bangsa, Lhokseumawe. Ujian dimulai dari pukul 08.00 dan berakhir pukul 15.00 wib.

Seleksi tertulis ini diikuti oleh sebanyak 25 orang siswa yang terdiri dari berbagai sekolah di Lhokseumawe, seperti sekolah Sukma Bangsa, SMAN 1 Lhokseumawe, SMAS PIM, SMAN Modal Bangsa, dan lain-lain. Adapun jenis soal tes yang diikuti meliputi soal tentang pengetahuan umum atau General Knowledge, Tes Potensi Akademik, dan tes kemampuan bahasa inggris atau English Proficiensy Test.

Para JAYCiers yang hadir dalam kegiatan ini bertanggung jawab dalam hal pengawasan ujian mulai dari membagikan soal, mengarahkan peserta, dan mendokumentasikan jalannya ujian. Adapun para JAYCiers yang hadir diantaranya Wahyu Nisa Alsera, Irwan, Ahmad Naufal Mukhtar, Nanda, dan Zulfahmi. Penanggung jawab kegiatan, Amalia Suri yang juga merupakan alumni Youth Exchanges Student atau Pertukaran Budaya antar Pelajar ke Amerika Serikat tahun 2014 asal Aceh ini mengatakan bahwa kegiatan seperti ini masih butuh banyak sosialisasi di Aceh, khususnya di Kota Lhokseumawe.

"Harus diakui minat pelajar di sini masih sedikit. Masih banyak siswa-siswa di sini yang belum tahu tentang program pertukaran pelajar. Mereka harus tahu informasi ini sedari dini supaya mereka termotivasi untuk berartisipasi. Ini sangat bermanfaat, selain untuk mengharumkan nama Aceh di kancah internasional, ini juga menjadi bekal masa depan yang baik untuk anak-anak Aceh." ungkap gadis yang biasa disapa Amel ini.

JAYC selaku sebuah komunitas kepemudaan yang ada di Lhokseumawe, turut mendorong sosialisasi tentang kegiatan-kegiatan kepemudaan seperti yang diadakan Bina Antar Budaya, dan juga mencoba terus mengajak anak-anak muda Aceh untuk terus meningkatkan kapasistas diri lewat berbagai kegiatan-kegiatan yang positif dan membanggakan.

Semoga siapapun yang terpilih nanti mampu menjadi kebangaan dan menginspirasi anak-anak muda lainnya. Sampai jumpa di seleksi program Pertukaran Budaya bagi Pelajar antar Negara selanjutnya. Semangat berprestasi. Do More, Achieve More!

IMG_4462     IMG_4422