Sabtu, 10 Oktober 2015

SLB Aneuk Nanggroe, Sawang, Aceh Utara



Ini adalah kunjungan kami yang kelima ke sebuah Sekolah Luar Biasa "Aneuk Nanggroe" di Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Kami salut dengan Kepala sekolah sekaligus pendiri sekolah ini. Beliau mendirikan sekolah ini dengan dana sendiri dan kemauannya sendiri.

Sebuah sekolah yang terletak di pedalaman Aceh. Kami harus menempuh jarak sekitar 15 Km dengan jalan terjal "berbatu"--bukan lagi kerikil--dengan hati-hati. Salut untuk guru-guru yang mengajar disana, tiap hari mereka datang kesana menempuh tanjakan tajam di tepi bukit menuju sekolah itu.

Nikmat Tuhanmu mana lagi yang kau dustakan?

JAYC,
By the hand, lets spread hope!

Senin, 07 September 2015

JAY-C Semakin Kece Dengan Hadirnya Seragam Baru

Hallo sobat JAYCiers, kali ini kita akan share seragam dinas--ceileh-- kita yang baru, yaa walaupun kaos tetapi baju ini adalah simbol kita dilapangan.

Kenapa kami memilih bahan dasar kaos dan warna biru?

Kaos-JAYC

Dikarenakan aktifitas kita kebih banyak dilapangan ketimbang di ruangan, jadi kita memilih baju berbahan dasar kaos (cotton combed 24s), lembut dan tidak panas. Sablonnya pun jenis rubber, atau sablon tinta karet. Jadi tahan lama dipake bertahun-tahun. =D

Alasan kami memilih warna biru (biru tourqies/cyan/tosca) adalah karena warna biru umumnya memberi efek menenangkan dan diyakini mampu mengatasi insomnia, kecemasan, tekanan darah tinggi dan migraine. Didalam dunia bisnis warna biru disebut sebagai warna corporate karena hampir sebagian besar perusahaan menggunakan biru sebagai warna utamanya. Hal ini dikarenakan warna biru mampu memberi kesan profesional dan kepercayaan. =)

Dan juga  warna biru diyakini dapat merangsang kemampuan berkomunikasi, ekspresi artistic dan juga sebagai symbol kekuatan. Serta peruntungan yang baik, kebijakan, perlindungan, inspirasi spiritual, tenang, kelembutan, dinamis, air, laut, kreativitas, cinta, kedamaian, kepercayaan, loyalitas, kepandaian, panutan, kekuatan dari adlam, kesedihan, kestabilan, kepercayaan diri, kesadaran, pesan, ide, berbagi, idealisme, persahabatan dan harmoni, kasih sayang.

Seperti yang sudah kita jelaskan diatas, warna biru memberi kesan tenang dan menekankan keinginan. Biru tidak meminta mata untuk memperhatikan. Obyek dan gambar biru pada dasarnya dapat menciptakan perasaan yang dingin dan tenang. Warna Biru juga dapat menampilkan kekuatan teknologi, kebersihan, udara, air dan kedalaman laut.

Dan juga, Berdasarkan cara pandang ilmu psikologi warna biru tua mampu merangsang pemikiran yang jernih dan biru muda membantu menenangkan pikiran dan meningkatkan konsentrasi.

Nah, buat anggota JAYC, bisa langsung hubungi Kak Nanda untuk mendapatkan kaos keren ini. Untuk kalian participant JAY-C jangna berkecil hati, karana kalian juga bisa dapatkan kaos ini, silakan hubungi kak Nanda juga yaa~ ;)

Logo JAY-C.png

Jumat, 21 Agustus 2015

Mencintai Indonesia dari Sekolah Tua

IMG_4618 MG_6688-536x357

LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com – Bangunan Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS), di Desa Abeuk Reuleng, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara dipenuhi murid SD dan Taman Kanak-Kanak, Senin (17/8/2015) kemarin.

Gedung beratap rumbia dengan dinding tepas bambu tua itu berdiri sejak lima tahun lalu. Di situlah, generasi bangsa mencintai Indonesia.

Pelaksanaan upacara bendera dalam rangka Hari Ulang tahun Republik Indonesia ke 70 itu diinisasi oleh komunitas anak muda yang tergabung dalam Komunitas Jaroe Aceh Youth Community (JAYC).

“Antusias siswa-siswi sangat tinggi, mereka baru perdana melakukan upacara, sebab upacara pada Senin pagi pun belum pernah dilakukan di sekolah ini,” ujar Asmaul Husna, guru di sekolah tersebut.

Perangkat upacara terdiri dari mahasiswa dari Universitas Malikussaleh yang tergabung dalam JAYC. Mereka bertindak sebagai pengibar bendera, pembaca UUD, dan lain sebagainya. Guru dan murid melingkar membentuk formasi sempurna. Menghormat ketika bendera tengah menanjak tinggi ke udara.

IMG_2707 MG_6756-536x357

Pelaksanaan upacara itu berlangsung khidmat. Gedung reot sekolah itu pun dihiasi dengan kain merah dan putih, dua warna di bendera Indonesia. “Ini kali pertama pelaksanaan upacara HUT RI di sekolah ini,” sebut Ketua JAYC Nanda Feriana. Tiga ruang kelas reot itu menjadi saksi kecintaan mereka pada negeri ini.

Ruangan itu tidak menyusutkan semangat mereka untuk mengibarkan bendera. Bahkan, anak-anak semakin riang ketika digelar lomba lompat karung, balap kelereng, dan makan kerupuk.

Murid kelas IV MIS Darussalam, Reza mengaku sangat senang mengikuti upacara tahun ini. “Senang, bisa mengikuti upacara. Ini sungguh menyenangkan,” kata Reza.

Di sisi lain, Nanda Feriana, menyebutkan pihaknya akan mendampingi anak-anak itu untuk menggelar upacara setiap Senin pagi. Tujuannya untuk mendidik generasi masa depan mencintai Indonesia. Merekalah, sambung Nanda sebagai penerus bangsa ini. “Mereka peserta didik dan tonggak estafet untuk menjaga keutuhan NKRI,” kata Nanda.

Artikel ini dimuat di: Viva, Kompas, Acehkita, Portalsatu

Mengintip 'Mewahnya' Perayaan HUT RI di Sekolah Bilik Bambu

IMG_2576

Letaknya di Desa Abeuk Reuling, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Sebanyak 68 siswa bersekolah disini. Namanya Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Abeuk Reuling. Sekolah ini dijuluki "sekolah laskar pelangi." Itu karena bangunan ruang belajar sekolah ini mirip dengan sekolah yang ada dalam film tersebut.

Saat matahari pelan-pelan beranjak meninggalkan ufuk timur, puluhan siswa sudah tiba di sekolah tersebut. Meski hari itu adalah tanggal merah, namun bocah-bocah itu sangat semangat bersekolah. 

Itu karena, hari ini mereka akan menggelar upacara pertama menyambut hari kemerdekaan Indonesia. Satu dua orang siswa masih berlari-larian mengejar waktu agar tak telat merayakan pengibaran bendera sang saka.

Di halaman sekolah telah menunggu guru-guru yang mengabdi untuk sekolah yang dibangun dengan swadaya masyarakat tersebut. Tak hanya guru, beberapa relawan dari komunitas Jaroe Aceh Youth Community (JAYC) dan Turun Tangan juga telah siap disana.

Mereka akan memandu para siswa untuk melaksanakan upacara hari kemerdekaan serta mengadakan aneka lomba khas 17 Agustus.

IMG_4770IMG_4560

Syi’ara Rizka, merupakan salah seorang siswa kelas VI di sekolah tersebut. Bagi dia dan adik kelasnya, upacara HUT RI yang ke 70 ini merupakan yang pertama mereka lakukan. Sebelumnya mereka tidak pernah mengerti bagaimana melaksanakan upacara.

MG_6811-536x357

“Ini yang pertama bagi kami. Sebelumnya kami tak pernah melakukan upacara. Kami sangat senang dan bangga bisa upacara hari merdeka Indonesia, biasanya cuma nonton di TV,” ujar Syi’ara dengan wajah sumringah kepada VIVA.co.id.

Matahari semakin meninggi. Terik matahari tak menyurutkan sedikitpun semangat mereka untuk tetap mengikuti upacara. Meski tak tahu caranya baris-berbaris dengan benar, anak-anak ini tetap mengikuti instruksi guru dan para relawan.

Ketika pemimpin upacara menyiapkan barisan, dengan sigap para penerus bangsa itu beridir tegak dan menepukkan tangan mereka ke paha sebagai tanda siap. Begitu juga saat menghormat sang saka, beberapa malah menghormat dengan tangan terbalik.

Kegirangan Syi’ara dan teman-temannya semakin bertambah saat para relawan dari komunitas tersebut menggelar aneka lomba.Mulai dari lomba lompat karung, bawa kelereng pakai sendok, lomba goyang dengan menggunakan balon hingga lomba makan kerupuk.

“Ini hari dimana mereka harus tahu dan ikut merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Mereka juga berhak menikmati pendidikan yang lebih layak. Semoga momen 70 tahun Indonesia merdeka ini menjadi awal dari kebangkitan sekolah ini,” ujar Nanda Feriana, Ketua Komunitas JAYC.

Senyum dan tawa bahagia terekam jelas di wajah bocah-bocah lucu tersebut. Meski terjatuh, mereka tetap berusaha bangun lalu kembali melanjutkan perlombaan lompat karungnya.

MG_6993-536x357IMG_4609

Tak Tersentuh

Sekolah Swadaya Masyarakat Desa Abeuk Reuling terletak tidak begitu jauh dari jalan lintas provinsi. Namun, untuk bisa sekolah, anak-anak di desa ini dan empat desa lainnya di dekat sekolah harus menempuh jarak 4 sampai 5 kilometer.

Karena alasan itulah, pada tahun 2010 silam, masyarakat dari lima desa tersebut sepakat membangun sebuah madrasah setingkat sekolah dasar. Sekolah ini dibangun dengan menggunakan pelepah bambu dengan lantai tanah dan beratapkan daun rumbia.

Pelan-pelan, perlengkapan sekolah juga mulai dipenuhi. Meja, kursi, papan tulis hitam, kapur, buku-buku bacaan mulai ada di sekolah tersebut. Sekolah ini kemudian terdaftar dan berada dibawah departemen agama.

Tahun berganti tahun. Namun sekolah ini tak kunjung mendapat uluran tangan pemerintah. Alasan berada dibawah naungan departemen agama membuat dinas pendidikan setempat tidak berkutik untuk membantu pembangunan sekolah tersebut.

Saat musim pemilu datang, sekolah ini mengalami banjir janji. Tak sedikit para caleg berjanji akan membangun sekolah tersebut. Setelahnya, janji pun dilupakan. Mereka yang berjanji tak lagi menampakkan diri ke sekolah tersebut.

Selain mereka yang gemar berjanji, sejumlah komunitas dan relawan pun datang ke sekolah tersebut. Sebisa mungkin mereka membantu anak-anak disana untuk mengembangkan potensi diri. Juga mereka ikut menyumbang sejumlah buku-buku bacaan.

“Yang berjanji cukup banyak, apalagi musim pemilu. Tapi tidak ada satupun yang terealisasi. Semuanya cuma janji aja,” ujar Nurlina, salah seorang guru MIS Abeuk Reuling.

Tahun ini, sekolah tersebut sudah punya murid kelas VI. Sebentar lagi, sekolah tersebut akan melahirkan alumni pertamanya. Saat ini, sudah ada dua kelas lain yang dibangun dengan menggunakan dana APBA dan Otsus. Namun itu belum mencukupi. Dua ruang kelas sederhana itu disekat menjadi empat bagian lainnya.

Satu diantaranya bahkan dijadikan sebagai ruang para guru. Meskipun kondisi sekolah seperti itu, Syi’ara dan teman-teman tidak pernah mengeluh. Ia senang bisa bersekolah disana. Ia berharap bisa terus menikmati pendidikan nantinya dan berdoa agar Presiden Jokowi memperhatikan kondisi mereka.

“Pak Presiden Jokowi, semoga bapak melihat kondisi sekolah kami. Semoga bapak mau mengulurkan tangan bapak dan membantu kami,” ujar Syi’ara polos.

Matahari hampir berada tepat di atas kepala. Saatnya pembagian hadiahpun tiba. Saat para pemenang maju untuk menerima hadiah, teriakan dukungan dan tepuk tangan dari yang tidak menangpun bersahutan. Bagi mereka, memperingati hari kemerdekaan adalah hari dimana semua harus berbahagia. (ren)

Sumber: viva.co.id

Senin, 18 Mei 2015

Araselo

Oleh: Nanda Feriana

11206006_496143837203339_6299374052440384403_n 

Entah bagaimana caranya melukiskan desa yang satu ini. Memang benar, dari namanya terdengar cukup asing, dan tampaknya seperti bukan nama desa yang berada di Aceh. Sebagai orang Aceh pun, nama itu baru pertama kali saya dengar, itupun dari seseorang yang bukan orang Aceh. Bang Ananta Rangga Permana Stokhorst namanya, Pengajar Muda Angkatan 9.

Araselo… bahkan masyarakat Sawang sendiri pun ada yang tidak tahu dimana keberadaan desa ini. Namun entah bagaimana caranya Program Indonesia Mengajar bisa menemukan desa ini dan memutuskan menempatkan salah seorang Pengajar Muda disana. Sejak memutuskan untuk menargetkan sekolah dasar di Araselo sebagai sasaran kunjungan Jaroe Aceh Youth Community (JAYC), sejak itu pula rasa penasaran dan keinginan berpetualang terus membuncah. Pada hari Jumat, 8 Mei 2015, niat berkunjung yang sempat dua kali tertunda itu pun akhirnya terealisasikan. Maka datanglah kami ke Araselo, untuk mengunjungi dan berbagi dengan anak-anak disana. Awalnya ada 10 orang yang mau terlibat, (7 anggota, dan 3 partisipan) namun entah bagaimana caranya, di hari keberangkatan semua relawan menjadi 14 orang. Antusiasme yang tak terduga.

Dan… Araselo, ketika jarum jam menunjuk pukul 4 sore, di tengah langit yang gelap dan gerimis tipis, kami bergerak untuk menapakinya. Terlihatlah lekuk-lekuk bukit yang menjulang tinggi, yang bentuknya tersamarkan kabut. Hawa dingin menggelayuti. Pohon-pohon besar dan semak belukar mengelilingi. Sulit untuk percaya itu disebut jalan menuju ke sebuah desa, karena lebih mirip jalan menuju ke hutan belantara. Namun 7 Sepeda motor yang membawa 14 anak-anak manusia itu terus melaju. Meski hujan semakin mengirimkan kedinginan, namun tak terlihat ada wajah ketakutan dari teman-teman. Awan yang semakin gelap, tak sedikitpun menghambat jalannya langkah untuk terus bergerak. Ya, semakin gelap, jalanan semakin tak bersahabat. Permukaan jalan semakin garang, berbatu-batu (tak sekadar kerikil) , licin (khas tanah pergunungan yang terkena hujan), dan ruas jalan semakin sempit, semakin menanjak. Araselo, pelosok Aceh Utara itu nyaris tembus ke Aceh Tengah.Pukul 19.00 kami menghela nafas lega, kami tiba dengan bahagia.

Pernahkah terbayangkan? Di tengah hutan sedemikian belantara, ternyata terdapat sebuah sekolah dasar bernama SDN 25 Sawang? Dan SDN 25 Sawang, ternyata tak se dekat yang kami duga. Dengan megendarai motor, butuh waktu sekitar 20 menit untuk tiba ke lokasi. Dan karena bangunan sekolah berada di atas bukit, butuh waktu 20 menit lagi untuk berjalan kaki (beresiko jika mengendarai sepmor) ke atas bukit yang terjal dan berbatu. Dan.. begitulah Araselo. Di SD itulah salah satu PM Indonesia Mengajar mengabdi setahun lamanya disana.

Benar, bahwa perjalanan ini membawa pelajaran hidup sangat berharga. Perjalanan yang mengajarkan banyak hal. Butuh keihklasan ekstra, kerendahan hati, kepedulian untuk bisa mengabdi setulus hati, menjadi anak-anak muda hebat dan kuat. Tinggalkan hiruk pikuk kota Jakarta dan mengabdi ke desa, setahun jauh dari keluarga, demi setahun mengabdi,demi seumur hidup menginspirasi. Terimakasih banyak bang Rangga, atas inspirasinya. Tetap kompak para JAYCiers, thanks atas tangan kalian, tangan yang tangguh dan hebat. Terimakasih para bintang dari Araselo, dari SDN 25 Sawang, kalian generasi kuat.

Anak muda, mari buka mata. Jangan sibuk berteriak, mari lebih banyak bergerak!

11141760_496101973874192_815845778790675108_n _MG_1092 11041748_496101233874266_1489808761367421912_n

Volunteer dan Panitia Seleksi Bina Antar Budaya Chapter Banda Aceh

IMG_4427  IMG_4404

Pada hari Minggu, 3 Mei 2015, Jaroe Aceh Youth Community (JAYC) dipercaya menjadi panitia sekaligus volunteer dalam kegiatan tes tertulis dalam rangka Seleksi calon peserta untuk program Pertukaran Budaya bagi Pelajar antar Negara yang diadakan oleh Bina Antar Budaya Chapter Banda Aceh. Dalam kegiatan ini, Para JAYCiers diminta untuk membantu jalannya proses ujian yang berlangsung di SMA Sukma Bangsa, Lhokseumawe. Ujian dimulai dari pukul 08.00 dan berakhir pukul 15.00 wib.

Seleksi tertulis ini diikuti oleh sebanyak 25 orang siswa yang terdiri dari berbagai sekolah di Lhokseumawe, seperti sekolah Sukma Bangsa, SMAN 1 Lhokseumawe, SMAS PIM, SMAN Modal Bangsa, dan lain-lain. Adapun jenis soal tes yang diikuti meliputi soal tentang pengetahuan umum atau General Knowledge, Tes Potensi Akademik, dan tes kemampuan bahasa inggris atau English Proficiensy Test.

Para JAYCiers yang hadir dalam kegiatan ini bertanggung jawab dalam hal pengawasan ujian mulai dari membagikan soal, mengarahkan peserta, dan mendokumentasikan jalannya ujian. Adapun para JAYCiers yang hadir diantaranya Wahyu Nisa Alsera, Irwan, Ahmad Naufal Mukhtar, Nanda, dan Zulfahmi. Penanggung jawab kegiatan, Amalia Suri yang juga merupakan alumni Youth Exchanges Student atau Pertukaran Budaya antar Pelajar ke Amerika Serikat tahun 2014 asal Aceh ini mengatakan bahwa kegiatan seperti ini masih butuh banyak sosialisasi di Aceh, khususnya di Kota Lhokseumawe.

"Harus diakui minat pelajar di sini masih sedikit. Masih banyak siswa-siswa di sini yang belum tahu tentang program pertukaran pelajar. Mereka harus tahu informasi ini sedari dini supaya mereka termotivasi untuk berartisipasi. Ini sangat bermanfaat, selain untuk mengharumkan nama Aceh di kancah internasional, ini juga menjadi bekal masa depan yang baik untuk anak-anak Aceh." ungkap gadis yang biasa disapa Amel ini.

JAYC selaku sebuah komunitas kepemudaan yang ada di Lhokseumawe, turut mendorong sosialisasi tentang kegiatan-kegiatan kepemudaan seperti yang diadakan Bina Antar Budaya, dan juga mencoba terus mengajak anak-anak muda Aceh untuk terus meningkatkan kapasistas diri lewat berbagai kegiatan-kegiatan yang positif dan membanggakan.

Semoga siapapun yang terpilih nanti mampu menjadi kebangaan dan menginspirasi anak-anak muda lainnya. Sampai jumpa di seleksi program Pertukaran Budaya bagi Pelajar antar Negara selanjutnya. Semangat berprestasi. Do More, Achieve More!

IMG_4462     IMG_4422

Senin, 16 Maret 2015

JAYC JUMPA MENTRI!

nanda dan anis baswedan

Senin 9 Maret 2015 adalah hari yang tak akan terlupakan bagi anggota Jaroe Aceh Youth Community (JAYC). Betapa tidak, pada hari tersebut JAYC berkesempatan berjumpa langsung dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia periode 2014-2019, Bapak Anies Baswedan di pendopo Bupati Aceh Utara.

JAYC diundang secara khusus oleh para Pengajar Muda dari Indonesia Mengajar Angkatan 9 penempatan wilayah Aceh Utara yaitu kak Ananta Rangga Permana, Dian Ayu, Kak Melisa, Bang Wengky, dan Bang Agung. Bersama beberapa anggota penggiat komunitas pemuda peduli pendidikan lainnya yang ada di kota Lhokseumawe dan Aceh Utara seperti Gerakan Pengajar Perubahan (GPP), Aceh Menyala, Tanda Seru Consulting, JAYC  mencoba berbaur dan saling berbagi.

Dalam sambutannnya pak Anies Bswedan menyampaikan rasa salut dan bangganya kepada seluruh para penggiat komunitas–komunitas anaka muda yang masih mau mempedulikan pendidikan di Indonesia, khususnya di Aceh Utara.Pak Anies Baswedan juga mengucapkan rasa terimakasih kepada pemerintah Aceh Utara yang sudah mau menerima Program Indonesia Mengajar dan Pengajar Muda dengan tangan terbuka di daerah tersebut.

Pak Anies juga berpesan agar mutu pendidikan di Aceh Utara terus ditingkatkan dengan berbagai gebrakan-gebrakan baru, gerakan-gerakan kepemudaan. Ia mengatakan bahwa yang dibutuhkan dunia pendidikan bukan keluhan, tetapi perbuatan yang mampu mengatasi persoalan. Selain member kesempatan mengajukan pertanyaan secara langsung kepada beliau, Pak Mentri juga menyempatkan diri berfoto bersama dengan para JAYCiers yang hadir (JAYCiers Aulia,Nanda, Ferdian, dan Fahmi).

Momen mengharukan itu tak akan pernah dilupakan oleh para anggota JAY-C. Tentu momen ini menjadi api pembakar semangat bagi JAYC agar terus mau berbagi bagi semua dan terus menginpirasi anak muda. Because “bye the hand let’s spread hope” dengan tagline ini mari terus berbagi inspirasi, harapan, karena berbagi tak akan pernah membuat kita rugi.

Rabu, 11 Maret 2015

Surat Untuk Anies Baswedan

997032_1063305807029211_6218151405859152153_n

Oleh: Nanda Feriana  (Founder Jaroe Aceh Youth Community)

Dear bapak Anies Baswedan, Menteri Pendidikan Republik Indonesia yang baik hatinya dan pemimpin luarbiasa, idola para pemuda. Terimakasih banyak atas kesempatan bertemu dengan bapak hari ini. Ketika sebelumnya hanya bisa melihat wajah meneduhkan dan bijaksana itu di televisi,dalam wawancara-wawancara, dalam dialog-dialog, atau dalam acara Mata Najwa. Maka hari ini saya dan kami semua hanya berjarak sekitar dua meter dari tempat duduk bapak. Pemandangan yang sangat langka. Tatapan bijaksana dan pembawaan yang berwibawa itu sangat mengagumkan. Really awesome day!

Pak Anies Baswedan Ph.D.,terimakasih karena telah hadir ke tengah-tengah kami disini, di Lhokseumawe, Aceh Utara. Sebuah daerah petrodollar berjuluk tanah Pasai yang konon katanya kaya hasil alamnya dan makmur rakyatnya. Terimakasih karena telah menyapa kami dengan bagaimanapun kondisi kami. Terlebih terimakasih karena telah mengirimkan para anak muda luarbiasa kesini, Para Pengajar Muda dari Indonesia Mengajar . Anak-anak muda pilihan Indonesia yang sangat berjasa , tak banyak bicara, bahkan jarang terekpos media massa.

Senang sekali bisa melihat bapak lebih dekat, sosok yag telah banyak melahirkan semangat, harapan untuk negeri ini. Salah seorang dari 20 Tokoh Pembawa Perubahan Dunia, 500 Muslim Berpengaruh di Dunia, penerima Young Global Leaders Award dan PASIAD Education Award. Pak Anis, pemimpin-pemimpin Aceh saat ini harus belajar banyak dari bapak. Ajarkan mereka untuk lebih baik.

Dan…Tahukah bapak? Kami sangat bangga sekaligus bahagia. Ketika nama komunitas kami,Jaroe Aceh Youth Community, dan komunitas peduli pendidikan lainnya seperti Aceh Menyala, Gerakan Pengajar Perubahan (GPP), Tandaseru Consulting, disebutkan dihadapan seluruh hadirin. Dihadapan para tamu undangan, para guru, para kepala UPTD, kepala Dinas, dan lainnya. Itu sangat mengharukan. Kami percaya bahwa bapak tak akan pernah membiarkan anak muda tak didengarkan dan diperhatikan.

Pak Anis, Yang paling membahagiakan lagi bukan soal bisa ketemu saja, tapi adalah ketika Bapak masih mau membaca sebuah tulisan sederhana yang kami sodorkan dan kemudian mau berfoto dengan tulisan itu . Sebuah tulisan berbunyi “Bye the hand, Let’s spread hope”. Teurimong Geunaseh Pak Mentri! . JAYC yang belum lama lahir, merasa telah mendapat restu yang sangat berharga. Foto tersebut bagai api pembakar semangat. Semoga banyak orang yang terisnpirasi untuk selalu berbagi dan menyebarkan kebaikan dan harapan seperti yang telah bapak lakukan.

Akhirnya, Terimakasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada para Pengajar Muda Indonesia.

Mengajar Angkatan 9, bang Ananta Rangga Permana Stokhorst, yang telah menghubungi saya, mengundang kami untuk bertemu langsung pak Anis Baswedan. Thanks bagi PM lainnya kak Dian Ayu, kak Melisa, Bang Wengky, dan juga Bang Agung. Terimakasih telah datang kemari dan mengubah Aceh kami menjadi lebih baik. Mari terus bersinergi untuk perubahan negeri. (Lhokseumawe, 9 Maret 2015)

Sabtu, 07 Maret 2015

Yuk Ikut PPAN 2015!

images

Di tahun 2015 ada banyak Program menarik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Indonesia salah satunya PPAN, biasanya para calon delegasi PPAN dari berbagai macam daerah sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi di Provinsinya masinng-masing.

Setiap provinsi tentu akan berupaya untuk mengirim delegasi terbaiknya pada setiap pagelaran PPAN, untuk itu bagi para calon peserta PPAN tentunya diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan sebaiknya agar nanti dapat menunjukkan kemampuan yang maksimal saat seleksi.
Berikut sedikit informasi tentang apa itu PPAN dan tips agar dapat terpilih sebagai delegasi dari daerah masing-masing.

???????????????????????????????


Apa itu PPAN?

Program Pertukaran Pemuda Antanegara atau biasa disingkat PPAN adalah program yang diselenggarakan oleh Pemerintah Indonesia melalui Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga). Program tahunan ini adalah kesepakatan antara Indonesia dan negara “tujuan” untuk mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan negara bersangkutan.  Adapun bentuk kegiatan PPAN ini biasanya menyangkut pemahaman sosial dan budaya.

Apa saja Program Pertukaran Pemuda?

Setiap tahunnya akan diadakan seleksi disetiap masing-masing provinsi di Indonesia untuk memilih seorang kandidat terbaik yang akan dikirim kenegara-negara yang melakukan kesepakatan PPAN dengan Indonesia diantara adalah.


  • Malaysia (IMYEP)
    Program ini biasa disingkat IMYEP, Usia maksimal untuk mengikuti Indonesia Malaysia Youth Exchange Program adalah 23-27 tahun. Kegiatan IMYEP ini ini biasanya adalah kunjungan antara pemuda-pemuda delegasi dari Indonesia ke Malaysia diikuti juga dengan kunjungan pemuda-pemuda dari Malaysia yang berkunjung ke Indonesia. Biasanya pihak Kemenpora sudah memilih provinsi mana yang akan dituju setiap tahunnya. Sebagai contohnya pada tahun 2013 lalu, yang menjadi tuan rumah penyelenggara IMYEP adalah Jawa Timur kemudian pada tahun 2014 adalah Bali. Kunjungan ke Malaysia juga biasanya berupa Homestay, pada tahun 2013 misalnya diselenggarakan di Johor sedangkan di tahun 2014 di Negeri Sembilan.

  • Canada (ICYEP)
    Indonesia Canada youth exchange Program atau biasa disingkat ICYEP adalah kegiatan pertukaran pemuda antara Indonesia dan Canada. Program ini biasanya adalah kegiatan Voluntary antara pemuda kedua negara dari daerah yang diwakili untuk mengenal aktivitas sosial dan budaya masyarakat kedua negara. Program ini juga menyelenggarakan homestay untuk para delegasi di Canada dan juga di Indonesia. Untuk mengikuti program ini delegasi harus berusia antara 20-24 tahun.

  • Korea (IKYEP)
    Indonesia Korea Youth Exchange Program atau biasa disingkat IKYEP adalah kegiatan Pertukaran Pemuda antara Indonesia dan Korea. Delegasi kedua negara akan melaksanakan kegiatan pentas budaya ataupun berkunjung ketempat-tempat yang menarik di Indonesia dan Korea untuk lebih saling memahami karakter kebudayaan kedua negara. Adapun usia peserta kegiatan ini antara 18-24 tahun.

  • Australia (AIYEP)
    Austarlia Indonesa Youth Exchange Program atau biasa disingkat AIYEP adalah program pertukaran pemuda antara Indonesia dan Australia. Adapun kegiatannya lebih kurang sama dengan kegiatan-kegiatan pertukaran Pemuda yang disebutkan diatas terutama ICYEP. Usia peserta biasanya ditentukan antara 21-25 tahun.

  • Jepang (SSEAYP)
    SSEAYP adalah singkatan dari Ship for South East Asia Youth Program. Kegiatan ini sangat menarik karena pesertanya berasal dari negara-negara yang tergabung dalam ASEAN. Kegiatan SSEAYP adalah pelayaran menuju negara-negara Asia tenggara untuk kemudian berlabuh di Jepang. Kegiatan program ini lebih banyak diadakan di kapal, disini para peserta akan dapat banyak pengetahuan tentang kelautan, ekonomi, sosial dan budaya. Adapun usia peserta SSEAYP ditentukan antara 20-30 tahun.

  • China (CHIYEP)
    CHIYEP adalah singkatan dari China Indonesia Youth Exchange Program. Kegiatan program ini juga hampir mirip dengan kegiatan IKYEP tapi tentunya setiap program tetap memiliki keunikan masing-masing. Usia peserta yang mengikuti program ini antara 18-24 tahun.



Apa itu Homestay?

Yang dimaksud homestay ialah setiap delegasi akan diberikan orang tua angkat di tempat diadakannya program. Dengan ini maka diharapkan delegasi bersangkutan dapat merasakan bagaimana kehidupan sehari-hari keluarga dan masyarakat didaerah yang menyelenggarakan kegiatan. Biasanya kegiatan homestay inilah yang paling dirindukan oleh setiap delegasi setelah pulang kedaerahnya masing-masing.

Tips agar lolos mengikuti seleksi PPAN

Perlu diketahui Program Pertukaran Pemuda Antar negara ini selain juga menyelenggarakan kegiatan kunjungan dan homestay juga banyak melakukan diskusi-diskusi terkait isu terkini dan juga ekonomi. Untuk itu para peserta tentunya harus memiliki pengetahuan yang luas. Berikut poin-poin penting yang harus dimiliki peserta untuk memenangkan persaingan di seleksi pertukaran pemuda.


  • Tingkatkan pemahaman Budaya
    Setiap daerah di Indonesia memiliki kebudayaan yang unik antara satu dengan yang lainnya. Setidaknya sebagai calon delegasi dari provinsi bersangkutan tentunya harus sudah mengetahui hal-hal seni dan budaya seperti bahasa, tarian dan lagu dari daerah masing-masing. Karena delegasi yang dikirim adalah seseorang yang mewaliki ribuan pemuda ddari tempat terpilih untuk itu pemuda yang bersangkutan haruslah paham akan aspek kebudayaan yang dimiliki daerahnya.

  • Pahami keunggulan Daerah
    Tidak ada salahnya mulai menghafal nama Kabupaten yang ada di Provinsi masing-masing lebih baik lagi kalau bisa menghafal nama Bupatinya. Setiap daerah di provinsi masing-masing tentu memiliki keunggulan ekonomi masing-masing, mulailah memahami keunggulan itu.

  • Tingkatkan skill Bahasa Inggris
    Pertukaran Pemuda antara negara tentunya kegiatan antara Pemuda yang berbeda-beda negara, bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional sangat diperlukan sebagai penghubung. Setiap Provinsi biasanya akan mengirimkan delegasi yang bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris yang baik untuk itu mulailah mempersiapkan diri dengan membiasakan diri berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

  • Aware terhadap isu terkini
    Setiap provinsi hanya mengirimkan satu delegasinya, tentunya provinsi bersangkutan akan mengirimkan seseorang yang memiliki pengetahuan yang mumpuni. Untuk itu mulai dari sekarang harus lebih aware terhadap isu-isu terkini karena hal tersebut selalu dibahas saat forum diskusi.



Kapan seleksi PPAN diadakan?

Seleksi PPAN diadakan di setiap provinsi, namun tanggal pelaksanaannya disesuaikan dengan keputusan Dispora Provinsi masing-masing. Pada umumnya setiap daerah akan menyelenggarakan seleksi pada bulan Maret ataupun April. Sebagai contoh untuk Kepulauan Riau tahun lalu diadakan pada 4 April, pada tahun 2015 ini bisa lebih cepat atau lambat tergantung kebijakan nantinya. Untuk itu calon peserta seleksi PPAN harus lebih sigap mendengar informasi terkait terutama pada bulan Februari tentunya harus mulai bertanya-tanya pada pihak DIspora ataupun alumni PPAN tahun-tahun sebelumnya.

Foto-foto para JAY-Ciers ketika mengikuti ROADSHOW PPAN-PCMI Aceh, di Lhokseumawe, 3 Maret 2015.

???????????????????????????????       ????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Sumber Tulisan: http://infotanjungpinang.com/2015/01/21/informasi-seputar-pertukaran-pemuda-antar-negara-ppan/

Rabu, 18 Februari 2015

Meneguk Inspirasi dari Para Pemimpi(n) - Part II

IMG_1753

Pada hari Sabtu, 14 Februari 2015, di aula gedung Sepakat Training Center, ada sekitar 43 orang peserta Roadshow Dream Maker yang hadir memenuhi ruangan. Mereka datang dari 10 sekolah yang diundang oleh Jaroe Aceh Youth Community (JAYC) untuk mengikuti training sehari (one day training) yang diadakan oleh The Leader. Mereka berasal dari SMAN 1 Lhokseumawe, SMA Sukma Bangsa, MAS Ulumuddin, SMA Muara Batu dan lain-lain.

Ada banyak hal menarik dari anak-anak muda ini. Bahkan hal itu membuat kita harus lebih banyak merenung dan berkaca diri. Betapa tidak? Mereka memang luarbiasa dan anak-anak muda pilihan yang unggul di bidangnya masing-masing. Saat sesi river of life  (sesi menggambar dan bercerita tentang perjalanan hidup) banyak dari mereka menceritakannya dengan antusias. Bahkan tak disangka-sangka ada beberapa dari mereka yang berlinang airmata. Sesi yang dipandu oleh Bang Roma dari The Leader tersebut berlangsung seru, karena peserta dibagi dalam beberapa tim dimana satu tim dipandu oleh seorang mentor yang berasal dari panitia.

Menariknya, pada sesi itu kita akan mendengar berbagai mimpi-mimpi besar dari peserta. Bukan tidak beralasan mimpi itu dirancang sedemikian besarnya, tentu itu karena potensi-potensi yang tak kalah hebatnya yang mereka miliki. Selama sesi berlangsung, kami dari panitia, mencoba menyimak cerita mereka. Mengagumkan! Ada salah seorang dari mereka yang pintar berbahasa Prancis dan juga Korea. Ada pula yang sudah menerbitkan karya sastra berupa kumpulan cerpen. Menariknya lagi ada yang sudah pernah naik haji dan keliling 11 propinsi di Indonesia. Yang tak kalah membanggakan, para peserta juga merupakan anak-anak berprestasi di sekolahnya, mereka sering jadi juara umum dan sering ikut olimpiade dan berbagi even kompetisi-kompetisi bergengsi lainnya.

Mengetahui itu semua, membuat kami dari panitia menjadi sangat bangga. Kami sangat salut dengan potensi, prestasi dan pencapaian mereka dan mimpi-mimpi mereka ke depan. Meskipun dalam hati kecil, kami merasa malu terhadap diri sendiri. Di Usia semuda itu, mereka sudah sangat dewasa. Terlepas dari rasa itu, sekali lagi kami merasa bangga dan bahagia bisa mneghadirkan mereka. Dari situlah, kami meneguk banyak pelajaran, banyak inspirasi berharga. Terimakasih  anak muda !

IMG_9541    IMG_1723  IMG_1830IMG_1833

Selasa, 17 Februari 2015

Meneguk Inspirasi dari Para Pemimpi(n) JAY-C


IMG_1637

Menjadi panitia penyelenggaraan Roadshow Dream Maker 2015 untuk siswa/i se-Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara adalah sebuah kebanggaan bagi para Anggota Jaroe Aceh Youth Community (JAYC). Ketika The Leader, sebuah organisasi pemuda yang ada di Banda Aceh mempercayakan kami menjadi panitia atau local patner, tentu JAYC merasa sangat tertantang. Tentu disamping itu para JAYCiers juga merasa sangat bersemangat dan antusias.

Tak mengherankan bila para panitia bekerja dengan sangat kompak. Dari setiap bidang kepanitiaan yang dibagikan, para panitia menjalankan kinerjanya dengan sangat baik. Ada 15 orang panitia yang aktif dalam kegiatan ini sejak awal persiapan hingga pelaksanaan hari H. Sebut saja diantaranya JAYCiers Irwan, Kak Syifa, Linda, Zarra, Federick, Aulia, Ferdian, Akim, dll. Kalian luarbiasa!

Padahal, kita sadar bahwa kita memulai semua dari awal. Dari hal-hal yang tidak pernah ada sebelumnya dan kemudian membuatnya mejndi ada. Mulai dari memikirkan logo, memikirkan design kop surat dan badge panitia, mendesign dan membuat stempel, membeli ATK, menuliskan ToR kegiatan, dan melakukan berbagai persiapan adminitrasi lainnya. Selain bertanggung jawab dalam hal adminitrasi, teman-teman juga ikut mengantarkan surat dan formulir pendaftaran dari sekolah ke sekolah dan beberapa hari kemudian mengambilnya kembali. Begitulah di tengah kesibukan kuliah, dan organisasi lainnya, dan juga kegiatan kunjungan JAYC, betapa para JAYCiers masih mau berkontribusi dalam kepanitiaan ini.

Apa yang membuat para JAYCiers bersemangat? Ya, mimpi dan semangat berbagi. Itulah yang terpancar jelas dari mereka semua. Ya, Mereka para penebar inspirasi.

Sebagai sebuah komunitas yang baru berdiri, JAYC mencoba memberikan yang terbaik agar acara Roadshow terrselenggara dengan sukses. Dan, hasilnya? Roadshow Dream Maker 2015 untuk siswa/i se-Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara berlangsung seru dan sukses.  Kami berhasil menjemput 43 orang Para pemimpi luaubiasa. Mereka berkumpul dan memberi inspirasi kepada kami. Terimakasih banyak atas kerja kerasanya para JAYCiers. Semoga ke depan JAYC akan mampu mengadakan acara yang lebih keren lagi dan mampu menebar lebih banyak inspirasi bagi pemuda.

IMG_9301           IMG_9144IMG_9194      IMG_9347

Puluhan Siswa Ikut Dream Maker Camp di Lhokseumawe

Laporan: Zahratil Ainiah

IMG_1814

LHOKSEUMAWE - Jaroe Aceh Youth Community (JAYC), sebuah komunitas pemuda di Lhokseumawe dan Aceh Utara, bekerjasama dengan The Leader menyelenggarakan pelatihan sehari (One Day Training) tentang kepemudaan. Kegiatan yang diikuti oleh 50 siswa yang ada di Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara ini diselenggarakan di aula kantor Sepakat Training Center, Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Sabtu, 14 Februari 2015.

Dream Maker merupakan program pelatihan kepemudaan yang digagas oleh The Leader. The Leader mencoba memotivasi anak-anak muda di Aceh untuk menciptakan perubahan-perubahan dan mengarahkan pemuda untuk mewujudkan mimpi bagi masa depan Aceh yang lebih baik. Kegiatan ini mengusung tiga materi yaitu River of Life, Dream Revolution, dan Dream Plan. Hadir sebagai pemateri, perwakilan dari The Leader yaitu Ramadhan yang juga merupakan lulusan dari Indonesian Cultural Nasionalism 2014, dan juga inisiator dari Kampung Rencong Aceh serta Mifta Sugesty yang merupakan alumni Youth Exchange and Study (YES) of Amerika 2009.

Sebanyak 50 siswa yang yang diundang oleh Jaroe Aceh Youth Community untuk mengikuti kegiatan tersebut merupakan siswa pilihan dari 10 sekolah di Lhokseumawe dan Aceh Utara. Adapun ke 10 sekolah ini adalah SMAN 1 Lhokseumawe, MAN Lhokseumawe, SMA Sukma Bangsa SMKN 2 Lhokseumawe, SMKN 4 Lhokseumawe, Madrasah Aliyah Pesantren Ulumuddin, Madrasah Aliyah Pesantren Misabahul Ulum, SMA PT.PIM, SMAN 1 Muara Batu, dan SMAN 1 Samudra.

"Semoga dengan hadirnya Dream Maker di Lhokseumawe, peserta dapat bisa menggali potensi diri dan menjadi sosok inspirasi serta memberikan solusi bagi lingkungan sekitarnya. JAYC selaku lokal patner diharapkan mampu mengajak anak-anak muda untuk mewujudkan tujuan pendidikan mulai dari mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan," ujar Ketua The Leader, Muhammad Fathun.

Sementara itu, Ketua Jaroe Aceh Youth Community (JAYC), Nanda Feriana (Alumni Indonesian Youth Conference 2014), mengatakan kegiatan seperti Dream Maker ini sangat penting dilaksanakan di Lhokseumawe. “Selama ini jarang sekali diadakan pelatihan kepemudaan di Lhokseumawe dan Aceh Utara. Kita merasa ini perlu diikuti oleh anak muda Aceh, khususnya disini, Lhokseumawe. Disini mereka akan dibekali dengan pengetahuan sedari dini agar mengetahui potensi diri, sadar akan mimpi dan mampu merealisasikan mimpi-mimpinya,” ujar Nanda.[] 

IMG_1679   IMG_1727
IMG_9592   IMG_1688

Kamis, 12 Februari 2015

Bukan Sekadar Sentilan Sentilun

IMG_8577

07 Februari 2015 menjadi sejarah penting dalam hidup saya. Kejadian di hari itu membuat saya sadar sesadar-sadarnya. Ada sedikit cubitan kecil ketika kali itu saya dan teman-teman yang tergabung dalam komunitas JAYC (Jaroe Aceh Youth Community), mengadakan blusukan ke salah satu sekolah di Aceh. Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Darussalam namanya. Sekolah yang dipimpin oleh pak Mansur ini muridnya memang tak seberapa banyak. Tapi bagaimanapun juga mereka penerus bangsa. Sekolah dengan 54 orang siswa dan 13 guru itu membuat kerongkongan saya tercekat dan tidak mampu berucap banyak. Maka langsung saya putuskan untuk menuliskan apa yang ingin saya katakan agar pembaca dapat memahami perasaan siswa disana.

Apa permasalahannya? Mengapa MIS Darussalam yang berlokasi di Abeuk Reuleung, Kecamatan sawang, Aceh Utara meraih posisi utama saat ini di hati saya? Sehingga saya sangat terdorong untuk menjelaskan kepada teman-teman semuanya. Ada beberapa hal yang akan saya ceritakan dari pengalaman saya dan teman-teman JAYC. Sebelumnya, terimakasih untuk JAYC yang telah membuka mata, hati dan pikiran untuk terus bersyukur dan peka terhadap orang lain. Semoga kita dapat terus bekerja sama sebagai penggerak bangsa.

Mungkin jika kita jadi masyarakat sekitar desa Abeuk Reuleung, sulit bagi kita untuk memutuskan agar anak atau adik kita dapat bersekolah disana. Sudah pasti kita akan memilih sekolah yang bagus yang memungkinkan untuk menjamin kualitas pendidikan yang bagus pula. Namun apa yang harus kita lakukan, untuk tingkat sekolah dasar hanya itulah yang terdekat. Letaknya memang tidak jauh dari hiruk pikuk Krueng Geukuh, tapi keadaannya memprihatinkan. Hanya dua bangunan kelas yang dibangun atas bantuan pemerintah. Sisanya hanya kelas-kelas darurat yang itupun bisa dikatakan dalam keadaan kritis. Kelas darurat itu masih beralaskan tanah dan dinding anyaman bambu. Ditambah dengan pintu jebol, dan papan tulis yang buram menambah nilai kritis didalamnya. Persis suasananya seperti sekolah Lintang dan Ikal di film Laskar Pelangi. Bedanya, kelas-kelas tersebut belum sudi untuk rubuh.

Saya tidak tahu dimana perpustakaan, ruang UKS, ruang Guru, lapangan olahraga dan selebihnya seperti kebanyakan di sekolah lain. Pertemuan para guru dengan tamu dilakukan di balai sederhana yang juga terbuat dari kayu. Tidak ingin berfikir banyak, selama kegiatan saya berusaha untuk menahan kesedihan dan ikut tertawa dengan anak-anak bangsa. Berusaha tenang tanpa beban. Saya salut kepada mereka. Tidak perduli sekolah dimana, yang penting mereka harus bersekolah. Tidak perduli fasilitas infrastrukturnya, yang penting terus belajar. Tidak perduli mata pelajaran apa, yang penting belajar, sains dan IPS bagi mereka tidak ada bedanya. Yang penting semua dilakukan demi cita-cita mereka yang sederhana.

IMG_8563Ketika ditanya apa cita-cita mereka, hampir sebagian menjawab bercita-cita sebagai guru. Ya, mungkin saja karena mereka selalu melihat guru yang tetap bersedia mengajari. Sungguh guru-guru yang berjiwa besar. Nah sisanya, ada yang ingin menjadi ustad, dokter dan polisi. Cita-cita yang memang sangat sederhana dan juga wawasan yang seadanya. Hal ini terbukti pada saat inspirator saya, kak Asma bertanya pada seorang siswi “Adek mau keluar negeri gak nanti kalau udah gede ?” dia hanya menjawab dia hanya ingin ke Jakarta.

Patutnya kita bersyukur, berkuliah dimanapun kita, sekolah dimanapun kita. Yang penting kualitas diri bukan kualitas sekolah. Selama ini mungkin beberapa dari kita termasuk saya hanya mengeluh dan jarang bersyukur. Tapi coba lihat mereka, apa kita tidak malu karena kalah semangat dari mereka? Terserah pakaian apa, olahraga kah, hitam putih atau seragam pramuka. Yang penting tetap saja belajar. Tempa diri kita terus menjadi lebih baik, perluas wawasan dan pertemanan. Tentu meskipun dalam genangan lumpur, mutiara tetap tampak bercahaya.

Dan juga sampai saat ini saya masih tidak dapat memahami secara jelas. Apa yang sudah terjadi dengan Aceh? Bukankah Aceh daerah yang kaya? Bahkan Teuku Hasan Di Tiro menggambarkan jika kita mampu mengelola semua dengan baik, jalan-jalan pun akan terbuat dari emas. Tapi bukannya emas, malah kekejaman yang didapat. Pendidikan seharusnya jalan yang harus ditempuh untuk memutuskan rantai kemiskinan dan keterbelakangan. Namun faktanya kini ranah pendidikan pun masih saja dihambat dengan infrastruktur yang miris. Apa kita masih ingin kemiskinan? Apa kita masih ingin dalam keterbelakangan? Tentu pasti semua menjawab tidak. Apa yang harus kita lakukan ? Jangan sampai hal ini menghancurkan semangat tunas-tunas kecil bangsa Indonesia.

Penulis: Annisa, Mahasiswi Konsentrasi Public Relations Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh, anggota UKM-KSM Creative Minority dan Komunitas Jaroe Aceh Youth Community (JAYC).