Senin, 26 Januari 2015

Terimakasih Penebar Inspirasi Nisam Antara

Terimakasih Penebar Inspirasi Nisam Antara
Fatimah Azzahra, JAYC.
Senin 19 Januari 2015 adalah hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan buat saya. Saya bersyukur dapat melihat anak-anak penerus bangsa tersenyum antusias , sangat ceria dengan kedatangan kami para relawan dari Jaroe Aceh Youth Community (JAYC). Para guru-guru pun tak kalah antusiasnya menyambut kami dengan baik dan bahkan ikut serta dalam kegiatan ini.

Kami dari JAYC menemui mereka bertujuan untuk menyemangati, memberikan mereka motivasi, semangat untuk meraih kesuksesan dan cita-cita. Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan, melewati jalan-jalan yang berlubang, berbatu, becek dan harus naik turun tanjakan membuat adrenalin kita terpacu. Pemandangan sepanjang perjalanan yang  sungguh membuat saya menganga dan hanya bisa berucap “subhanallah”. Pohon-pohon besar, sungai-sungai yang mengalir diatasnya air bening, jurang yang terjal, sawah-sawah nan hijau, merupakan simpanan kekayaan  Aceh yang luarbiasa, kekayaan Indonesia. Sungguh sangat menyenangkan melihat pemandangan alam seperti ini.

Jujur awalnya saya sangat tidak menyukai menjadi seorang pengajar, harus mengajari anak-anak yang dalam bayangan saya susah diatur bandel, tapi setelah saya melihat anak-anak ini membuat saya berpikir dua kali untuk tidak menyukai anak-anak yang lucu ini. Sebenarnya bukan tidak menyukai anak-anak tapi saya sangat malas bersosialisasi dengan orang-orang yang tidak saya kenal sebelumnya tapi dengan adanya komunitas-komunitas yang saya ikuti membuat saya membuka mata lebar-lebar bahwa berinteraksi dengan sesama sangatlah penting, karena dengan mengenal orang-orang baru kita dapat belajar hal-hal baru juga.

Kami mengikut sertakan kelas 3,4,5,6 semuanya digabung dalam satu kelas. Kemudian setelah digabung mereka menjadi berjumlah 43 orang siswa, sungguh sangat disayangkan mengingat pendidikan sangat penting tapi sekolah yang dijadikan sebagai tempat belajar malah sedikit sekali peminatnya, terlebih sekolahnya jauh dari rumah penduduk, jadi anak-anak harus jalan kaki atau naik sepeda yang jaraknya cukup jauh.

Lingkungan sekitar sekolah dikelilingi pohon-pohon. Tampaknya memang layak kita sebuat dengan hutan belantara. Rumah yang jarang-jarang cukup jauh antara satu rumah dengan rumah lainnya mungkin juga menjadi penyebab SDN Nisam Antara memiliki sedikit murid. Tapi itu tidak menjadi halangan bagi tenaga pengajar yang berjumlah 14 orang itu, yang merupakan anggota JAYC, mereka tulus berbagi dengan siswa-siswi yang berprestasi. Pada dasarnya mereka tentu berharap pemerintah melihat sekolah itu dan membantu membangun untuk menyediakan fasilitas-fasilitas yang layak. Mereka juga berharap pemerintah membuatkan bangunan yang baik, cocok untuk bermain, karena jika hujan halaman sekolah itu becek dan anak-anak tidak bisa mengikuti upacara bendera maupun berolahraga atau sekedar bermain.

Saya sangat terkenang dengan anak-anak itu. Mereka sungguh manis, ketika dibagikan kelompok dan saya dipilih sebagai kakak asuh mereka. Saya merangkul mereka. Bahagia rasanya. Ada salah satu gadis kecil nan cantik  bertanya kepada saya “nama kakak siapa?” saya tersenyum dan menjawab “kak zahra” ia nyengir menampakan gigi kelincinya, sangat manis. Kemudian saya melihat gadis kecil yang tak kalah manisnya ia sangat pendiam dan membuat saya penasaran. Saya merangkulnya dan bertanya “kamu kenapa?” dia tidak menjawab sama sekali, hanya memainkan tangannya khas anak kecil yang sedang grogi. Teman sebelahnya menjawab “dia tidak berbahasa Indonesia kak” . awalnya saya tidak mengerti apa maksud dari perkataan temannya tapi setelah saya mencernanya baik-baik akhirnya saya paham bahwa maksudnya gadis kecil ini tak bisa berbicara bahasa Indonesia, ia hanya bisa berbahasa Aceh.

Sungguh disayangkan memang, tinggal di Indonesia tapi tidak bisa berbahasa Indonesia. Memang tidak salah jika ia menjunjung tinggi bahasa Aceh sebagai bahasa kesehariannya tapi bukankah bahasa persatuan Indonesia adalah bahasa Indonesia sesuai dengan yang tertera di sumpah pemuda?

“ia mengerti  bahasa Indonesia, tapi untuk berbicara dia tidak bisa kak, bisa cuma dikit-dikit” , kata salah seorang bocah disampingnya. Saya pun hanya bisa  tersenyum dan kembali menyuruh mereka melanjutkan  membuat menara yang disuruh ka syifa ,mc relawan dalam kegiatan ini. Mainan Menara dibuat bertujuan agar anak-anak belajar membangun sebuah mimpi, dengan pondasi yang kuat berupa tekad dan keyakinan. Mereka harus mampu membuat menara walau hanya dengan bahan sedotan plastik, mereka tetap harus menggantungkan cita-cita mereka setinggi dan sekokoh menara yang mereka buat sendiri.

Saya bersyukur bisa datang menunjungi sekolah di desa gampong Alue Papeun ini, membuat saya tahu bahwa banyak sekolah-sekolah yang harus diperhatikan kelayakannya, mungkin ini hanya satu yang saya tahu, tapi di tempat lain saya yakin pasti masih banyak lagi sekolah-sekolah yang perlu diperhatikan pemerintah. Saya berharap pemerintah membuka mata lebar-lebar akan hal ini, bukankah pendidikan sangat penting bagi masa depan bangsa?

Saya tentu akan terus mendoakan semoga mimpi anak-anak SDN 9 Nisam Antara ini akan menjadi nyata. Mereka luarbiasa dan memberi banyak pelajaran berharga bagi saya. Terimakasih anak-anak Indonesia, Para Penebar Inspirasi dari Nisam Antara. SFA

Fatimah Azzahra
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Unimal, Anggota JAY-C

Minggu, 25 Januari 2015

Selarat Harapan Dari dan Untuk (Didi)

Selarat Harapan Dari dan Untuk (Didi)
Didi, SDN 9 Nisam, Aceh Utara.

Saya tidak tahu persis siapa namanya. Tapi dia cukup meninggalkan ingatan tersendiri bagi saya. Kita sebut saja namanya Didi. Usai melakukan kunjungan ke SDN 9 Nisam Antara dgn teman2 JAYC bebrapa wkt lalu, saya lantas mengobrak-abrik gambar2 hasil dokumentasi teman2 .Dan saya menemukan foto ini. Foto Didi. Saya tidak tahu siapa nama aslinya dan darimana asalnya. Dan tampakya Didi juga bukan murid di sekolah pedalaman yang kami kunjungi itu.

Selama proses kegiatan JAYC berlangsung (di dalam kelas), Didi tak mau diajak masuk ke dalam. Dia berdiri dengan tenangnya tepat di samping pintu. Dia melongo dan sesekli terlihat mengintip-intip malu. Ketika para murid2 lainnya tertawa, Didi ikut tertawa, ketika yang lainnya terdiam Didi juga terdiam. Sesekali dia terlihat tersenyum memperhatikan teman-temannya,(murid-murid lainnya) yang kami ajak bercerita tentang cita-cita mereka masing2. Didi mendengarkan dngan seksama. Ketika Kami bersorak gembira dan bermain games, Didi ikut bertepuk tangan. Dia terlihat gembira. Tapi sekli lagi, Didi tetap berdiri di depan daun pintu. Tidak sekalipun berani melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam. Dia terus berdiri dengan tenang, seolah menunjukkan bahwa dirinya sangat nyaman ada di posisi itu. Posisi yang jauh beberapa langkah dari kami. Posisi yang menurutnya mungkin agak sulit untuk kami jangkau. Ya, barangkali Didi sedang berusaha untuk tidak berlebihan. Membatasi diri untuk lebih dihargai. Untuk tidak diusik atau diganggu.

Ya, begitulah dunia telah membentuk sekat perbedaan yang sangat nyata. Membeda-bedakan dengan sangat kentara. Membuat orang -orang seperti Didi merasa harus "memiliki dunia" nya sendiri. Memaksa dia menyadari kondisi.

Betapa wajah pendidikan hari ini, memang sangat tidak ramah terhadap orang-orang seperti Didi. ya, kenyataanya Penderita cacat mental, atau Down Syndrome seperti yang dialami Didi memang tidak mendapat banyak kesempatan dan perlakuan yg sama seperti anak-anak normal lainnya. Kesempatan bersekolah, bermain dan mengutarakan mimpi2nya. Sekolah Berkebutuhan Khusus di tempat kita (Aceh) juga masih sngat minim. Sehingga org2 seperti Didi, tidak memiliki kesempatan untuk bersekolah. Ketika orang tua mngetahui bahwa anaknya mengalami cacat mental, harapan untuk dia mengenyam sekolah pun tenggelam. Langsung dihapus dalam list pendidikan untuk anggota keluarga.

Pasti, di luar sana ada banyak Didi yg lain. Ada banyak "kembar sedunia" yg mengalami hal yg sama. Yg hanya bs melihat teman2 nya bergembira. Yg mencoba menikmati dunianya sendiri tanpa diusik oleh siappun. Tapi, kita bisa, membuat Didi - Didi lainnya kembali menjadi bagian dari kita. Tentu, dengan perlakuan yg penuh cinta, kasih sayang, dan kepekaan untuk lebih memanusiakan manusia.
Tetap Semangat Didi. Salam dr kmi, JAYC.

Nanda Feriana

Jumat, 23 Januari 2015

Ketika JAYC Lahir Untuk Kita

Kunjungan pertama JAYC
Kunjungan pertama JAYC, Nisam, Aceh Utara. (2015)
Jaroe Aceh Youth Community (JAYC)

Ya, dalam sebuah perenungan saya mencoba melahirkan nama ini. Nama yang saya bayangkan tidak akan begitu menarik dan membuat anak muda menjadi tertarik. Awalnya ketakutan itu muncul, ketakutan untuk mendirikan sebuah komunitas anak muda, di tengah- tengah kondisi ketidakpedulian sebagian dr mereka. Saya takut, terutama jika harus "melahirkan" sendirian, mengasuh dan membesarkan komunitas ini sendirian. Tapi, betapapun besarnya ketakutan itu, nama ini tetap saya mantapkan dalam benak. Kemudian dengan tekad,saya lahirkan nama ini secara utuh bagaikan sebuah bayi yang lahir ke dunia. Ya, JAYC akhirnya benar-benar lahir.

Yang saya tak pernah sangka, ternyata Tuhan tidak membiarkan saya melahirkan komunitas ini sendirian. Ada segelintir anak-anak muda luarbiasa lainnya yang ikut "membidani" proses persalinan komunitas ini. Bahkan, hari Senin, 19 Januari 2015, mereka membuat JAYC seperti memiliki banyak orang tua. Ya, bagi saya, mereka adalah para malaikat untuk JAYC. Mereka adalah Irwan Sah Dkv, Syifa Zakaria, Annisa Zulkarnain, Ade Irma Azza, Fatimah Azzahra, Teuku Ferdian SyahPutra, Akim Ritonga, Intan Hayyu D'Deira, Fahmi Crewboy, Ahmad Naufal MukhtarMalinda Nurulhuda, Aulia, dan Sera.

Terimakasih buat kalian semua. Big thanks to Irwan, yg sudah berlelah-lelah ikut memikirkn konsep, mendesign, memberi "baju" bagi komunitas ini dengan logo yg cantik. Buat kak Syifa, Akim, Ferdian, Nisa yg pagi2 minggu mau ikut rapat di tengah kesibukan yg bnyak. Juga buat Irma, yg sudah berjauh-jauh khusus dtang dari Panton Labu dengan sepeda motornya hanya untuk bs hadir. Jarak Panton Labu dan Nisam Antara itu sngat jauh. Tapi Irma datang.

Juga teman2 lainnya, yang saya tak sangka-sangka, yang langsung begitu mencintai dan merasa memiliki komunitas ini. Saya tidak bs memberi kalian apapun, selain pengalaman. Kalian menunjukkan kpda saya, betapa anak muda tak boleh diam saja. Di luar sana, orang yg mau peduli seperti kalian masih sangat langka. Kalian Volunteer yang hebat.

Kegiatan perdana JAYC, yakni kunjungan ke SD terpencil di Aceh Utara (SDN 9 Nisam Antara) berjalaan sgt lancar. Yg mmbuat saya sgt bangga, tak ada satupun dr kalian yg mengeluhkan soal jauhnya perjalanan, jalanan yg mendaki, becek dan berbatu, sinyal yg tak ada. Terimakasih banyak telah mendedikasikan diri seutuhnya menjadi bagian dr keluarga JAY-C. Terimakasih untuk Jaroe (Tangan) hebat kalian. Semoga untuk ke depan, kita mampu lebih banyak berbuat dan terus menjadi "orang tua" yang baik bagi komunitas ini. Amin.

Salam Jaroe, Salam Anak Muda, Salam JAY-C.

Nanda Feriana
Duta Indonesian Youth Conference 2014 dari Aceh dan Founder JAY-C.