Minggu, 25 Januari 2015

Selarat Harapan Dari dan Untuk (Didi)

Selarat Harapan Dari dan Untuk (Didi)
Didi, SDN 9 Nisam, Aceh Utara.

Saya tidak tahu persis siapa namanya. Tapi dia cukup meninggalkan ingatan tersendiri bagi saya. Kita sebut saja namanya Didi. Usai melakukan kunjungan ke SDN 9 Nisam Antara dgn teman2 JAYC bebrapa wkt lalu, saya lantas mengobrak-abrik gambar2 hasil dokumentasi teman2 .Dan saya menemukan foto ini. Foto Didi. Saya tidak tahu siapa nama aslinya dan darimana asalnya. Dan tampakya Didi juga bukan murid di sekolah pedalaman yang kami kunjungi itu.

Selama proses kegiatan JAYC berlangsung (di dalam kelas), Didi tak mau diajak masuk ke dalam. Dia berdiri dengan tenangnya tepat di samping pintu. Dia melongo dan sesekli terlihat mengintip-intip malu. Ketika para murid2 lainnya tertawa, Didi ikut tertawa, ketika yang lainnya terdiam Didi juga terdiam. Sesekali dia terlihat tersenyum memperhatikan teman-temannya,(murid-murid lainnya) yang kami ajak bercerita tentang cita-cita mereka masing2. Didi mendengarkan dngan seksama. Ketika Kami bersorak gembira dan bermain games, Didi ikut bertepuk tangan. Dia terlihat gembira. Tapi sekli lagi, Didi tetap berdiri di depan daun pintu. Tidak sekalipun berani melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam. Dia terus berdiri dengan tenang, seolah menunjukkan bahwa dirinya sangat nyaman ada di posisi itu. Posisi yang jauh beberapa langkah dari kami. Posisi yang menurutnya mungkin agak sulit untuk kami jangkau. Ya, barangkali Didi sedang berusaha untuk tidak berlebihan. Membatasi diri untuk lebih dihargai. Untuk tidak diusik atau diganggu.

Ya, begitulah dunia telah membentuk sekat perbedaan yang sangat nyata. Membeda-bedakan dengan sangat kentara. Membuat orang -orang seperti Didi merasa harus "memiliki dunia" nya sendiri. Memaksa dia menyadari kondisi.

Betapa wajah pendidikan hari ini, memang sangat tidak ramah terhadap orang-orang seperti Didi. ya, kenyataanya Penderita cacat mental, atau Down Syndrome seperti yang dialami Didi memang tidak mendapat banyak kesempatan dan perlakuan yg sama seperti anak-anak normal lainnya. Kesempatan bersekolah, bermain dan mengutarakan mimpi2nya. Sekolah Berkebutuhan Khusus di tempat kita (Aceh) juga masih sngat minim. Sehingga org2 seperti Didi, tidak memiliki kesempatan untuk bersekolah. Ketika orang tua mngetahui bahwa anaknya mengalami cacat mental, harapan untuk dia mengenyam sekolah pun tenggelam. Langsung dihapus dalam list pendidikan untuk anggota keluarga.

Pasti, di luar sana ada banyak Didi yg lain. Ada banyak "kembar sedunia" yg mengalami hal yg sama. Yg hanya bs melihat teman2 nya bergembira. Yg mencoba menikmati dunianya sendiri tanpa diusik oleh siappun. Tapi, kita bisa, membuat Didi - Didi lainnya kembali menjadi bagian dari kita. Tentu, dengan perlakuan yg penuh cinta, kasih sayang, dan kepekaan untuk lebih memanusiakan manusia.
Tetap Semangat Didi. Salam dr kmi, JAYC.

Nanda Feriana