07 Februari 2015 menjadi sejarah penting dalam hidup saya. Kejadian di hari itu membuat saya sadar sesadar-sadarnya. Ada sedikit cubitan kecil ketika kali itu saya dan teman-teman yang tergabung dalam komunitas JAYC (Jaroe Aceh Youth Community), mengadakan blusukan ke salah satu sekolah di Aceh. Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Darussalam namanya. Sekolah yang dipimpin oleh pak Mansur ini muridnya memang tak seberapa banyak. Tapi bagaimanapun juga mereka penerus bangsa. Sekolah dengan 54 orang siswa dan 13 guru itu membuat kerongkongan saya tercekat dan tidak mampu berucap banyak. Maka langsung saya putuskan untuk menuliskan apa yang ingin saya katakan agar pembaca dapat memahami perasaan siswa disana.
Apa permasalahannya? Mengapa MIS Darussalam yang berlokasi di Abeuk Reuleung, Kecamatan sawang, Aceh Utara meraih posisi utama saat ini di hati saya? Sehingga saya sangat terdorong untuk menjelaskan kepada teman-teman semuanya. Ada beberapa hal yang akan saya ceritakan dari pengalaman saya dan teman-teman JAYC. Sebelumnya, terimakasih untuk JAYC yang telah membuka mata, hati dan pikiran untuk terus bersyukur dan peka terhadap orang lain. Semoga kita dapat terus bekerja sama sebagai penggerak bangsa.
Mungkin jika kita jadi masyarakat sekitar desa Abeuk Reuleung, sulit bagi kita untuk memutuskan agar anak atau adik kita dapat bersekolah disana. Sudah pasti kita akan memilih sekolah yang bagus yang memungkinkan untuk menjamin kualitas pendidikan yang bagus pula. Namun apa yang harus kita lakukan, untuk tingkat sekolah dasar hanya itulah yang terdekat. Letaknya memang tidak jauh dari hiruk pikuk Krueng Geukuh, tapi keadaannya memprihatinkan. Hanya dua bangunan kelas yang dibangun atas bantuan pemerintah. Sisanya hanya kelas-kelas darurat yang itupun bisa dikatakan dalam keadaan kritis. Kelas darurat itu masih beralaskan tanah dan dinding anyaman bambu. Ditambah dengan pintu jebol, dan papan tulis yang buram menambah nilai kritis didalamnya. Persis suasananya seperti sekolah Lintang dan Ikal di film Laskar Pelangi. Bedanya, kelas-kelas tersebut belum sudi untuk rubuh.
Saya tidak tahu dimana perpustakaan, ruang UKS, ruang Guru, lapangan olahraga dan selebihnya seperti kebanyakan di sekolah lain. Pertemuan para guru dengan tamu dilakukan di balai sederhana yang juga terbuat dari kayu. Tidak ingin berfikir banyak, selama kegiatan saya berusaha untuk menahan kesedihan dan ikut tertawa dengan anak-anak bangsa. Berusaha tenang tanpa beban. Saya salut kepada mereka. Tidak perduli sekolah dimana, yang penting mereka harus bersekolah. Tidak perduli fasilitas infrastrukturnya, yang penting terus belajar. Tidak perduli mata pelajaran apa, yang penting belajar, sains dan IPS bagi mereka tidak ada bedanya. Yang penting semua dilakukan demi cita-cita mereka yang sederhana.
Ketika ditanya apa cita-cita mereka, hampir sebagian menjawab bercita-cita sebagai guru. Ya, mungkin saja karena mereka selalu melihat guru yang tetap bersedia mengajari. Sungguh guru-guru yang berjiwa besar. Nah sisanya, ada yang ingin menjadi ustad, dokter dan polisi. Cita-cita yang memang sangat sederhana dan juga wawasan yang seadanya. Hal ini terbukti pada saat inspirator saya, kak Asma bertanya pada seorang siswi “Adek mau keluar negeri gak nanti kalau udah gede ?” dia hanya menjawab dia hanya ingin ke Jakarta.
Patutnya kita bersyukur, berkuliah dimanapun kita, sekolah dimanapun kita. Yang penting kualitas diri bukan kualitas sekolah. Selama ini mungkin beberapa dari kita termasuk saya hanya mengeluh dan jarang bersyukur. Tapi coba lihat mereka, apa kita tidak malu karena kalah semangat dari mereka? Terserah pakaian apa, olahraga kah, hitam putih atau seragam pramuka. Yang penting tetap saja belajar. Tempa diri kita terus menjadi lebih baik, perluas wawasan dan pertemanan. Tentu meskipun dalam genangan lumpur, mutiara tetap tampak bercahaya.
Dan juga sampai saat ini saya masih tidak dapat memahami secara jelas. Apa yang sudah terjadi dengan Aceh? Bukankah Aceh daerah yang kaya? Bahkan Teuku Hasan Di Tiro menggambarkan jika kita mampu mengelola semua dengan baik, jalan-jalan pun akan terbuat dari emas. Tapi bukannya emas, malah kekejaman yang didapat. Pendidikan seharusnya jalan yang harus ditempuh untuk memutuskan rantai kemiskinan dan keterbelakangan. Namun faktanya kini ranah pendidikan pun masih saja dihambat dengan infrastruktur yang miris. Apa kita masih ingin kemiskinan? Apa kita masih ingin dalam keterbelakangan? Tentu pasti semua menjawab tidak. Apa yang harus kita lakukan ? Jangan sampai hal ini menghancurkan semangat tunas-tunas kecil bangsa Indonesia.
Penulis: Annisa, Mahasiswi Konsentrasi Public Relations Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh, anggota UKM-KSM Creative Minority dan Komunitas Jaroe Aceh Youth Community (JAYC).
